Kata Pengantar

Takdir seyogyanya adalah hal yang membahagiakan, menentramkan, dan membebaskan! Bagaimanapun Tuhan sangatlah adil menentukan takaran takdir-Nya buat setiap makhluk-Nya. Kehidupan makhluk berasal dari Rahmat-Nya; dari Kasih-Sayang-Nya!

Ungkapan takdir lebih sering muncul dalam suasana kekalahan, penderitaan dan bahkan lekat dengan keputusasaan. Sementara kebebasan itu harus diperjuangkan. Bolehlah kita berkata bahwa perjuangan hidup dan kehidupan merupakan perjalanan menuju takdir. Dan perjalanan itu tentulah sebuah langkah sengaja, gerak sadar, dan dipenuhi dengan berbagai pengetahuan, keinginan, serta kalkulasi berbagai risiko. Kesadaran akan sebuah takdir pastilah dihasilkan dari sebuah proses panjang.

Pun dengan demokrasi. Dibandingkan sebagai sebuah rumusan hasil akhir, demokrasi lebih merupakan proses. Demokrasi menjanjikan pembebasan. Dan perwujudan janji itu membutuhkan kerja keras, konsistensi, dan lebih penting dari itu harus berdasarkan dukungan dan mandate penuh dari semua kalangan. Tentunya perolehan kepercayaan itu bukanlah sekali untuk selamanya. Mungkin setengah dari pemberian amanat kepada seseorang adalah karena memperhatikan bukti kinerja, dan mungkin setengahnya lagi berasal dari desakan ekspektasi. Seorang pemegang amanat, selain harus menunjukkan konsistensi kinerja, juga butuh konsistensi moral. Hal inilah yang kini sedang dipertaruhkan dalam pesta dan panggung demokrasi.

Pesta dan panggung, kendati menjajakan keceriaan, kebahagiaan, kesenangan dan bahkan kemewahan, sering kali bukanlah fakta yang sesungguhnya. Selalu hadir sesuatu yang semu di sana. Dan pertarungan politik, persaingan demi memperoleh amanat dari rakyat, tidak jarang berlangsung menjadi sebuah pertandingan jagad simbolik. Karenanya si petarung, penting menunjukkan kinerja dan reputasi. Jangan sampai nanti keberatan symbol: bajunya demokrasi, tapi ruhnya otoriter; kainnya berhasil menutup aurat, tapi ucapnnya penuh caci-maki; pidatonya berapi-api memperjuangkan kesejahteraan rakyat, tapi auranya memendam ketidaksukaan, ketidakikhlasan, kemarahan, dan bahkan dendam politik.

‘Ala kulli hal pesta demokrasi bukanlah tontonan pertandingan final sepakbola. Mengelola Negara juga bukanlah final sepakbola. Mengelola Negara juga bukanlah pekerjaan menata panggung untuk sebuah pesta. Pemilu adalah langkah awal dari sebuah perjalanan panjang menjemput takdir sebuah bangsa. Tidak hanya takdir kesejahteraan lahir yang dijemput, namun lebih penting dari itu maghfirah dan rahmat Tuhan yang diharap.

Seorang pemimpin adalah cermin tertinggi dari kondisi umum rakyatnya. Pemimpin bisa merupakan cermin terburuk, bisa juga menjadi cermin terbaik. Untungnya, ide dan proses demokrasi adalah perjalanan menjemput takdir yang terbaik dan terindah. Sekali lagi, demokrasi adalah perjalanan panjang yang mungkin sangat melelahkan; sangat boleh jadi mengundang keputusasaan; sangat mungkin menyisipkan rasa dendam. Perjalanan dan perjuangan demokrasi selalu saja harus dilalui dengan jatuh bangun!

Takdir demokrasi selain dalam pengertian tersebut di atas dan sudah dipraktikkan rakyat pada pemilu legislatif 9 April 2009 silam dan akan ditunaikan lagi pada Pilpres 8 Juli 2009 ini, juga merupakan salah satu judl refleksi yang menjadi bagian dari keseluruhan buku ini.

Dan buku di tangan pembaca yang budiman adalah setitik refleksi yang muncul di sudut – sudut perjalanan politik demokratisasi kita yang dinamis itu. Asal – usulnya adalah dari Kolom Sudut Pandang yang setiap Jumat ada di pojik bawah koran Jurnal Nasional. Setiap tulisan sejatinya adalah refleksi ringkas dari sudut pandang penulis yang tentu saja “memihak”.

Di atas segalanya, penulis sadar betul bahwa sehebat – hebatnya buku kumpulan tulisan, tidak akan terlepas dari kekurangan dasarnya, yakni ide dasar dan temanya yang tidak utuh dan solid. Pembaca musti bersedia untuk bekerja keras merangkai-rangkai sendiri. Itulah takdir pembaca yang tak terhindarkan. Apa pun kekurangan dan kelemahan buku sederhana ini, penulis mempersembahkan dengan membenamkan perasaan rendah diri.

Anas Urbaningrum