Komentar Singkat

Buku ini menjdai sangat bernilai karena merupakan buah pemikiran dari bung Anas: seorang politisi muda yang memiliki jam terbang yang lengkap, baik di dunia aktivisme maupun politik kepartaian.

Bima Arya Sugiarto

Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia


Demokrasi adalah sebuah takdir yang mesti dilalui bangsa-bangsa yang berdap. Melalui buku ini, Anas menegaskan tak terhindarkannya jalan demokrasi. Pluralitas Indonesia adalah argumen pertama yang hadir sebagai fakta bagi takdir demokrasi di Indonesia. Marilah menjalani takdir demokrasi ini bersama Anas, saya, Anda, dan kita semua. Selamat membaca dan menjalaninya.

Budiman Sudjatmiko

Pegiat Politik PDI Perjuangan


Intelektual organis, begitu kata orang untuk menyebut sosok politisi-pemikir, pemikir-politisi. Mereka tidak kehilangan kewarasan dan selalu tercerahkan, walau ada di puncak-puncak kekuasaan politik. Saya mengagumi istilah itu sejak kuliah dulu. Dan Cak Anas adalah satu di antara sedikit sekali intelektual organis itu.

Indra J. Piliang

Politikus Partai Golkar


Ulasan- ulasan penulis buku Takdir Demokrasi ini cermat, imbang, dan perspektif. Penulisnya seorang politisi yang mampu merawat idealisme da daya intelektualnya.

M. Alfan Alfian

Dosen FISIP Universitas Nasional, Jakarta


Buku ini makin mengukuhkan mas Anas sebagai pecinta demokrasi. Analisis dan pandnagn politiknya khas ‘sang demokrat’ yang dibungkus dnegan kosakata yang renyah dan kerap kali ‘eksentrik’. Yang juga pasti ditemukan dalam setiap tulisannya: Bijaksana dan rendah hati.

Arip Musthopa

Ketua Umum PB HMI 2008-2010


Buku ini mereflesikan pemikiran yang jernih dari Anas Urbaningrum tentang demokrasi dan praktik demokrasi di Indonesia pascareformasi. Keprihatinannya tentang berbagai ganjalan dan distorsi yang menyertai perjalanan demokrasi kita, dan optimismenya tentang jalan demokrasi sebagai pilihan yang tak terhindarkan, menunjukkan kualitas pemikiran yang patut dihargai.

Ryaas Rasyid

Intelektual Politisi

Buku ini memiliki daya tarik tersendiri. Pertama, tulisan ini dibuat oleh pemelajar ilmu politik. Perspektif yang di pakai tidak lepas dari berbagai perspektif dalam ilmu politik. Kedua, Anas juga politisi. Apa yang disajikan juga tidak bisa dilepaskan dari pandangan- pandangan politik pribadinya dan partai yang dipimpinnya.

Kacung marijan

Guru Besar FISIP Universitas Airlangga

Bagi kebanyakan, kerja menulis berhenti saat aktivisme politik bermula; kejernihan refleksi kabur saat tuntutan keberpihakan menerang. Anas adalah sedikit perkecualian: Ia sanggup menjaga keseimbangan antara leksis dan praksis, kejernihan dalam keberpihakan.

Yudi Latif

Kepala Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia (PSIK-Indonesia)

Tulisan Anas sangat khas. Bahasa lisan dan tulisannya senapas, sama-sama tenang, santun, bijak, namun tak menggurui pembacanya. Ia bentangkan perkara dan wacana ataupun peristiwa politik sehari-hari dari sudut pandang demokrasi. Analisisnya tegas, terang, mendalam, dan tajam menusuk tanpa mengklaim ataupun sok monopoli ‘kebenaran’.

Ramadhan Pohan

Pemred Harian Jurnal Nasional

Anas adalah embrio intelektual dan politisi era the founding fathers tahun 1920-an, seperti Soekarno, Hatta, dan Sjahrir. Yaitu tokoh yang tak hanya kuat di wacana akademik, tapi juga seorang praktis politik. Jalan baru yang ditempuh Anas di politik praktis di Partai Demokrat lebih melezatkan renungan intelektualnya, sebagai seorang pemikir-pejuang atau pejuang-pemikir.

Denny J.A.

Direktur eksekutif Lingkaran Survei Indonesia

Ajakan-ajakan untuk membangun demokrasi sangat otoritatif karena didasarkan pada refleksi akademik dan ditunjukkan melalui tindakan yang konsisten.

Andrinof A. Caniago

Pengamat Politik dari Universitas Indonesia